September 2, 2016

FORUM DISKUSI


Pernahkah Anda terjebak dalam sesuatu yang kurang penting? Saya rasa jawabannya adalah pernah. Bahkan orang paling penting di dunia pun pasti pernah terjebak dalam situasi ini. Bagi Anda yang pernah merasakan, mungkin hal kurang penting tersebut sedikit mengganggu dan menyita waktu. Namun apa daya, pilihan sudah diambil konsekuensi pun juga harus ditanggung. Seperti apa yang saya rasakan saat ini.

Kali ini saya lelah untuk terus menutup mulut. Saya mencoba untuk berbicara apa adanya. Mengutarakan pendapat yang sudah lama terbendung di benak saya. Mungkin sedikit berlebihan untuk orang yang selalu berpikir masa bodoh tentang hal yang kurang ia suka. Namun, kali ini saya lebih mengedepankan logika. Belajar memilah mana yang rasional mana yang irasional. Mana yang berakal dan mana yang membual.

Terjebak suatu diskusi, mungkin menjadi hal baru menurut saya. Dengan pikiran terbuka dan skill bicara yang pas-pasan, mungkin menjadi faktor lucky yang berharga. Sekali lagi, di sini lebih menekankan pada logika. Saya bawa kemampuan itu untuk dilatih, bukan untuk dipamerkan. Terlebih lagi untuk diasah agar dapat berjalan spontan dengan pertimbangan yang matang. Bukan omongan asal-asalan melainkan ucapan berbobot tebal yang minim kiasan.

Pembahasan pun dimulai. Entah mengapa hati sudah legowo, tapi situasi cukup membosankan. Apa karena baru pertama kali? Jika iya pasti belum terbiasa. Ayolah, semangat. Perlihatkan antusiasmu. Semakin lama saya mendengar banyak kata yang keluar. Disampaikan dengan penekanan yang cukup halus tetapi bulus. Saya dengarkan lagi kata per kata, mungkin ini suatu hal untuk belajar bersuara. Baiklah, saya mencoba untuk menikmatinya.

Sudah berapa lama? Kurang lebih setengah hari. Saya jenuh. Cukup menggambarkan bukan? Seperti ikan yang dipaksa didarat. Lebih tepatnya ikan yang memaksakan dirinya ke darat. Apakah kurang waktu? Untuk saya yang peka terhadap increasing ability mungkin sudah cukup membuktikan. Okelah, pembahasan ini, diskusi ini seperti tak berbobot. Bagaimana bisa kurang lebih setengah hari hanya digunakan untuk membahas satu lembar kertas? Dan mereka meributkan hal tersebut seolah -olah hal tersebut penting untuk disanggah dan dijadikan topik perdebatan yang sempurna. Demi apa? Di sini saya benar-benar realize akan peribahasa tong kosong nyaring bunyinya.

Ada yang salah di sini. Boleh berpendapat? Sejak dulu, saya selalu diajari dan dididik untuk efisien terhadap waktu. Waktu untuk apapun. Salah satunya untuk memecahkan masalah. Kalaupun tidak ada masalah, haruskah kita terus mencari dan mencari si masalah sampai ketemu? Bukankah seharusnya diskusi itu menyelesaikan masalah, bukan tambah mencari masalah. Kalaupun tujuan mencari masalah itu hanya untuk speak up, mengapa saya dijejali dengan topik yang kurang penting untuk dibahas? Aneh memang. Ilmu berbicara ini seharusnya dikaji ulang. Melatih kecerdasan verbal dengan topik yang cerdas. Begitu seharusnya toh? Kalau hal ini terus dilakukan, waktu akan terus terbuang tanpa ada solusi.

Untuk Anda sekalian yang banyak bicara. Bisakah kita renungkan sejenak apa yang kita bahas. Saya hanya ingin memerdekakan kita. Jika terus terjebak oleh sistem yang salah, mau dibawa kemana tujuan yang sebenarnya. Saya rasa, saya punya hak untuk bersuara. Ini memang pendapat pribadi saya. Tapi toh sejenak merefleksikan diri saja. Masing-masing sajalah. Kita di sini ingin diskusi cerdas, bukan diskusi culas. Kasihan orang-orang  yang baru terjun dalam dunia diskusi. Jika terus dijejalkan dengan topik-topik yang kurang penting, saya takut mereka dilahirkan menjadi generasi berprinsip zonk. Menyedihkan bukan? 

No comments:

Post a Comment

Thanks for your comments!