September 6, 2016

FAMILY IN MY OPINION

FAMILY-IN-MY-OPINION
Image Source : http://prosperityedwell.com/treating-family-system/

Keluarga adalah segalanya. Dulu saya berpikir keluarga adalah hal yang biasa saja. Sampai saya mengenal seseorang yang mengajarkan saya bahwa keluarga itu istimewa, terutama ibunya. Secara tidak langsung ia membuka mata saya akan arti keluarga. Saya beruntung karena dilahirkan di dalam keluarga kecil saya ini. Seorang ayah yang tegas, tanggung jawab, dan humoris. Seorang Ibuk yang sangat sabar, rela berkorban, dan juga penuh kasih sayang. Dan seorang adik laki-laki yang sangat dermawan, tanggung jawab, dan rela berkorban. Keluarga saya merupakan suatu anugerah terindah, lebih dari apapun.

Mungkin hal tersebut yang membuat saya betah berlama-lama di rumah. Bercengkerama dengan Ibuk saat di rumah. Membicarakan hal-hal yang lumayan tidak jelas dan menggodanya. Karena hatinya begitu lembut dan sensitif, tak jarang pula ia tersinggung dengan ucapan saya yang urakan dan awur-awuran. Dengan sifat saya yang keras kepala ini pastinya tidak pernah mengalah untuk minta maaf. Ibuk saya yang selalu mengalah. Belum lagi, untuk saya yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah (paling mentok hanya mengurusi kepunyaan saya saja), Ibuk masih memaklumi. Sangat tak tahu diri bukan? Bayangkan seharian nonton di depan televisi, si Ibuk uring-uringan dan saya hanya diam tak peduli. Setelah percekcokan sesaat, ia melupakan dan selalu mengingatkan untuk makan. Bayangkan, anak macam apa saya ini. Namun, saat Ibuk tertidur saya suka memeluknya. Entah karena badannya yang lumayan empuk atau faktor lainnya. Ha ha. Setiap kali saya memeluk Ibuk, saya selalu merasa tenang dan ego saya hilang seketika. Ingat, ini dalam kondisi Ibuk saya tertidur. Jika tidak, saya selalu menolak dipeluk karena risih. Ha ha ha.

Untuk Bapak, seseorang yang tidak melewatkan sholat lima waktu dan mencari nafkah untuk keluarganya. Sangat mengikuti trend dan sok muda. Jadi nyambung dengan saya. Namun, ada waktu dimana Bapak mengucapkan nama saya dengan nada tegas dan lumayan keras. Yaitu, di saat saya berbuat salah yang sekiranya cukup fatal. Dan saat itu, saya hanya berdoa semoga auman singkat padat jelas ini segera berakhir. Punya niat untuk mengulangi? Bunuh diri itu namanya. Ha ha. Hal yang membuat saya kagum. Ia selalu mengajari saya untuk menghormati Ibuk. Dan saya suka caranya. Seperti “Ibuk dibantu ya Nduk. Kasihan.” (Ini karena saya hanya leha-leha dirumah), “Sungkem ke Ibuk dulu, Nduk.” (Ini waktu Hari Raya Idul Fitri), “Ibuk kalau siang diajak ngobrol ya Nduk.” (Ini karena saya kebanyakan begadang dan molor sampai siang), dan masih banyak lagi. Dan Bapak selalu bilang tanpa sepengetahuan Ibuk. Jadi hanya perbincangan empat mata antara saya dan Bapak. Mungkin biar no drama gitu. Ha ha. Selain itu, Ia selalu memberikan kebebasan untuk bertindak. Tidak mengekang tapi mengarahkan. Alhasil, saya cukup bahagia dan tetap tahu etika. Etika di sini adalah tidak menyalahgunakan apa yang diberikan. Karena secara naluriah, saya adalah orang yang tahu terima kasih. Jadi dapat dikatakan, saya sangat puas dengan sistem yang dikelola di keluarga ini.

Nah, ini yang paling saya rindukan saat pulang ke rumah. Bertemu adek laki-laki saya. Entah mengapa saya berpikir bahwa ia seharusnya menjadi mas saya saja. Coba bayangkan, ia berkata bahwa jalani sesuatu yang disuka yaitu yang berasal dari hati sehingga nanti akan nyaman kedepannya. Ini adalah kasus dimana saya coba memaksanya ikut ekstrakurikuler band dan ia lebih memilih sepak bola diiringi dengan alasan di atas. Oke, speachless saya. Ada lagi, saya menceritakan tentang seseorang yang begitu beruntung karena ia diberi kesempatan ke luar negeri dengan skill yang pas-pasan. Istilahnya lucky-lah. Tanggapan saya, pasti merasa gemas karena effortless. Tanggapan adek saya? “Sudah rejekinya mbak, Alhamdulillah-lah ikut senang.” Percakapan ini berakhir seketika. Tidak hanya itu, saat saya melihat berita tentang calon jamaah haji di TV yang gagal berangkat karena urusan administrasi, saya merasa kasihan. Saya utarakanlah kepada adek saya. Dan ia berkata, “Sudah kehendak Allah itu mbak.” Sekali lagi saya diam. Nah, ini yang paling membuat saya tercengang, saya kepo-in hpnya. Benar saja banyak chat dari perempuan sebayanya. Kebanyakan yang chat duluan adalah temannya dan ia menanggapi sewajarnya. Namun ada yang menyita perhatian saya. Ia memberi tahu temannya itu bahwa ia telah diselingkuhi. (Ya Allah, cinta monyet). Dengan ketawa jahat, saya mendatangi adek saya ini dan men-ciye-ciye-in ia dengan puas. Ha ha. Namun apa yang ia katakan? “Biar putus mbak. Biar tidak ada lagi yang pacaran. Biar tidak ada yang maksiat-maksiatan.” Ampuuuun Tuhaaaaaan, saya sebagai kakak merasa tidak berguna.

Cerita di atas masih secuil dari kehidupan keluarga saya yang luar biasa ini. Saya beruntung, beruntung, dan beruntung. Saya katakan sekali lagi, saya bersyukur hidup dalam keluarga ini. Keluarga yang sederhana dan no drama pastinya. 

No comments:

Post a Comment

Thanks for your comments!