July 27, 2016

KISAH LUAR BIASA ANTARA AKU, JILBAB, DAN SOSIAL MEDIA


KISAH LUAR BIASA ANTARA AKU, JILBAB, DAN SOSIAL MEDIA
Aku, Jilbab, dan Sosial Media
Selamat (tengah) malam semua.

Hari ini aku mau membagikan sebuah cerita yang cukup berarti dalam perjalanan hidupku. Kisah yang mungkin sebagian besar orang alami, khususnya untuk seorang wanita muslim.

Sekitar beberapa tahun lalu aku tidak mengenakan jilbab. Alasannya simpel. Karena dari kecil aku memang tidak dibiasakan berkerudung. Mungkin hanya pada event tertentu seperti pondok ramadhan, lebaran, dan hari-hari peringatan islam lainnya. Dan hari-hari kulewati dengan biasa saja tanpa ada beban sama sekali.

Kelas tiga SMP, aku mendaftarkan diri ke SMA yang berbasis asrama. Sebenarnya tidak ada niat untuk kesana karena aku hanya ”coba-coba” saja. Mungkin ini rejekiku, aku diterima. Pertama kali menjejakkan kaki di asrama, aku merasa sekolah ini luar biasa. Dengan segala fasilitas yang ada, aku menikmati semua secara cuma-cuma. Di sana hanya belajar, tidur, makan, dan melibatkan diri dalam berbagai aktivitas sosial. Sempat aku berpikir, ini sekolah negeri dan dibiayai oleh perusahaan swasta. Tetapi kebanyakan teman-teman perempuanku malah menggunakan kerudung. Seharusnya tidak bukan. Tahun pertama yang tidak berkerudung cukup banyak. Namun tidak mencapai presentase 25 persen. Tahun kedua, rekan sejawatku tiba-tiba memutuskan untuk berkerudung. Dalam hati, aku kehilangan beberapa personil. Bayangkan, dari satu kelas yang tidak berkerudung hanya ada empat orang. Aku, temanku dan dua orang temanku yang berstatus non-islam. Beberapa bulan kemudian, temanku memutuskan untuk berkerudung. Yah, tinggal aku seorang.

Walaupun aku tidak menggunakan kerudung, aku sudah terbiasa menjalankan sholat lima waktu (meski kadang bolong karena ketiduran), membaca Al-Qur’an, puasa, zakat dan kewajiban-kewajiban Islam lainnya yang telah diajarkan oleh orang tua, guru ngaji, dan guru sekolah. Menurutku, itu sudah cukup. Tidak terlalu sesat dan tidak terlalu fanatik. Dalam keseharian, aku senang mengenakan celana pendek dan kaos. Oke akan kuperjelas, celana pendek bukan berarti hot pants atau kaos bukan berarti T-Shirt ketat yang menonjolkan bagian tertentu. Itu menjijikkan menurutku. Setelan rambut pendek dengan panjang maksimal sebahu serta rambut yang tidak pernah disisir. Seperti setitik tinta yang menodai kertas putih. Aku tinta, temanku yang berkerudung kertas putih. Hahaa. Dan masih sama, tidak ada sama sekali dalam hati sanubariku untuk menutup mahkota yang jarang aku sisir ini. Selagi aku masih menjalankan kewajiban Islam toh tidak masalah. Masih ada pahala.

Bagaimana reaksi-reaksi temanku tentang ini? Ada yang biasa saja, ada yang menganggapku keren, ada yang geleng-geleng, ada yang berupaya untuk mengajakku berkerudung dan lain-lain. Lucu memang. Tapi aku senang mereka memperhatikanku. Pernah suatu ketika aku berkerudung karena menghadiri pengajian yang diadakan setiap hari minggu, teman-temanku mengucap Subhanallah. Demi apa, aku merasa seperti kaum sesat yang baru tobat. Belum lagi ucapan mereka, kamu lebih cantik pakai kerudung sambil membenahi kerudungku. Oke, ini adalah politik para hijabers untuk merekrut anggota baru. Tapi seperti biasa, setelah selesai pengajian, kaos kedoworan dan celana kombor tetap kukenakan. Sebenarnya aku punya alasan lain kenapa aku tidak berkerudung. Disamping ribet, aku melihat beberapa temanku yang berkerudung yang tidak “berkerudung”. Seperti tidak pernah sholat, tidak pernah datang ke pengajian setiap minggu, pacaran yang sedikit ekstrem dan ini yang paling aku tidak suka, buka tutup kerudung seenak jidatnya. Oke, memang statusku di sini tidak berkerudung dan aku tidak berhak untuk men-judge orang seperti itu. Tapi tolong gitu, kalau tidak niat pakai kerudung ya sekalian lepas saja seperti yang aku lakukan. Kan lebih enak dilihatnya. Terlihat lebih konsisten dan tidak mempermainkan arti berkerudung sesungguhnya. Walaupun aku tidak berkerudung, aku selalu berupaya untuk menjaga teman-temanku yang berkerudung. Aku bilang kalau rambutnya tak sengaja menyembul keluar kerudung, bilang kalau ada anak laki-laki yang lewat di koridor asrama sehingga mereka masuk kamar, sebagai kurir antar barang apabila mereka akan menyerahkan barang seperti tugas atau apapun itu kepada anak laki-laki apabila mereka tidak berkerudung. Dan satu lagi, karena badanku agak bongsor aku dipercaya untuk menutupi mereka saat melewati koridor untuk lintas kamar. Suatu kehormatan sebenarnya bagiku.

Tahun ketiga sampai lulus SMA, aku tetap tidak berkerudung. Alasannya masih sama. Aku melanjutkan kuliah D1 jurusan manajemen dengan lingkungan yang anda tahu sendiri menuntut penampilan sebagai prioritas utama. Dengan dandanan brandal, aku merasa seperti preman yang masuk di tengah wanita-wanita bergincu. Ada yang berkerudung, tapi seperti itulah. Bulan ke bulan, rambutku mulai memanjang dan sisi feminismeku pun muncul walaupun sedikit. Namun dengan tabiat yang sama, “berandal”. Sebagai seseorang yang tidak terlalu tertarik dengan sosial media, aku dipaksa teman kuliahku untuk membuat akun sosial instagram. Sebenarnya aku merasa itu tidak penting sama sekali. Namun, di sini klimaksnya.

Setelah aku memutuskan untuk lost contact dengan teman SMA ku karena alasan tertentu, aku muncul kembali. Ya aku memang labil. Aku mengunggah foto di instagram dengan penampilan baruku dan mendapat respon yang cukup positif karena rambutku sekarang telah disisir. Salah seorang teman mengomentari fotoku untuk bergabung di group Line. Oke, dengan terpaksa aku membuat Line. Sebulan setelah Line menganggur, aku mulai sedikit kepo dengan akun ini. Kubuka Line, benar saja langsung banyak pesan yang masuk. Aku mulai mempelajari Line ini. Kulihat timeline, ada banyak meme lucu, status curhatan teman-teman dan akun-akun islam yang di like temanku. Oke, aku add semuanya tanpa pandang bulu. Tidak butuh waktu yang lama, aku mulai bersahabat dengan Line. Kulihat setiap hari timeline dan aku membaca akun islam itu. Pertama yang membuatku tertarik adalah hubungan tentang islam dan logika. Seperti spektrum cahaya yang ternyata energinya dapat kita serap pada setiap waktu sholat, siapa yang menyangka bukan? Ternyata agamaku luar biasa. Disitu aku mulai takjub dan selalu meng-kepo-in semua tentang islam dan logika atas kemauanku sendiri tanpa paksaan dari siapapun.

Suatu ketika aku membuka timeline. Tepat malam hari bulan Ramadhan. Kali ini akun ini mengunggah tentang kewajiban berkerudung. Oke, entah kenapa ada perasaan takut saat membaca memenya. Ada gambar seorang perempuan tidak berkerudung terbakar api neraka. Demi apa? Siapa coba yang nggak takut? Aku memberanikan diri untuk membacanya. Benar saja, setelah dibaca semakin ngeri.

"Rambutnya akan digantung dengan api neraka sehingga mendidih otaknya dan ini terjadi sampai berapa lama ia di dunia semasa hidupnya belum menutup rambut kepalanya."

Ketakutan ini sepertinya tidak berjalan lama, tapi ada suatu kekhawatiran. Sedikit. Esoknya masih dengan tema yang sama, wanita berjilbab. Kali ini hadist berbunyi. 

"Digantung dengan rantai api neraka di mana dada dan pusatnya diikat dengan api neraka serta betis dan pahanya diberikan panggangan seperti manusia memanggang kambing di dunia dan api neraka ini sangat memedihkan perempuan ini."

Waduh, kok horror ya. Kekhawatiranku naik level walaupun sedikit. Esok malam hari setelah sholat tarawih, aku buka lagi timelineku. Benar saja tentang hukum wanita harus berkerudung. Ampun, deg-degan lagi aku. Tapi di gambar kok ada orang laki-laki ya. Terus aku baca. Ada ketakutan luar biasa disertai penyesalan sampai aku menangis. Oke, aku menangis. Siapa coba yang nggak merinding. Selama ini yang aku tahu, wanita tidak memakai kerudung itu dosa. Ya kalau dosa pasti ditanggung sendiri-sendiri bukan? Nah, di sini kenapa bawa-bawa ayah. Esoknya aku mulai memakai kerudung paris yang biasanya menganggur di rumah. Aku coba-coba memantaskan cara kerudungku. Agak aneh memang. Tapi mau bagaimana lagi. Daripada ayah ikut-ikutan dosa, ya lebih baik begini adanya. Setelah sholat tarawih aku membulatkan tekat. Aku berbicara kepada ayah, ibu dan adek bahwa aku akan mengenakan kerudung. Mereka kaget. Sebenarnya aku sendiri juga kaget kenapa bisa berbicara seperti ini. Ibuku sepertinya keberatan karena aku masih muda dan banyak hal yang aku senangi yang sama sekali tidak berbau dengan kerudung. Dalam pikiranku, iya sih. Tapi ada dorongan lain yang mengharuskan aku untuk tetap berkerudung. Kemudian ayahku angkat bicara. Okelah nak, yang penting istiqomah. Wow, ada perasaan bahagia yang boom sekali! Pertama kali launching diri menutup aurat, edaaan, seperti biasa seperti kaum quraiz yang tobat masuk islam. Teman-temanku merespon dengan berbagai komentar. Nah sampai saat ini, aku merasakan damai yang luar biasa. Masih dengan sifat berandal, tetapi kali ini dengan kerudung yang menutupi rambutku yang tidak pernah disisir dan diombre (ungu-merah-gold). Aku merasakan hidupku menjadi luar biasa. Kenapa? Karena hidayah saya datang dari sosial media. Keren banget ya hidayah gua, haha. Terimakasih Allah, Engkau sungguh LUAR BIASA!

No comments:

Post a Comment

Thanks for your comments!