July 6, 2016

DISTORSI


Aku berjalan mengitari sebuah dunia yang kumengerti (sendiri). Entah sudah berapa lama aku menikmati (atau mungkin terjebak) dalam fana. Dunia yang memang aku sendiri yang mengerti. Sejauh ini baik-baik saja. Namun, kali ini aku mencoba bermain. Bermain dengan sebuah realita. Rutinitas, prioritas dan popularitas. Tiga kata yang biasa kusebut realita. Kuucapkan sekali lagi, itu realita. Tanpa sadar aku tertawa, keras sekali. Tahukah engkau bagaimana rasanya?

Senang? Iya.

Bangga? Tentu saja.

Puas? Pasti.

Namun aku tetap mengatakan “namun”. Tak tahu diri memang. Dan aku masih dengan tawa. Kali ini agak pelan. Saat ini di pikiranku, namun tetaplah namun. Saat dunia yang kumengerti lambat laun pergi. Aku sekarat. Tak ada yang tahu itu. Dan aku senang. Masih dengan tawa yang sama. Aku masih menekuni apa yang kusebut realita. Bermain lebih tepatnya. Di sela-sela permainan ini aku berharap. Dunia yang kumengerti, kapankah kau kembali. Dadaku sesak, mengais sisa-sisa fana dengan fatamorgana. Memimpikanmu dengan lamunan. Hampa, ya hatiku kosong. Mariyuana milikku telah dicuri. Tahukah kau apa yang terjadi? Bodohnya aku masih tertawa. Namun kali ini ada yang berbeda. Perih sekali. Hahaha, sepertinya aku menangis.

No comments:

Post a Comment

Thanks for your comments!